SEKILAS INFO

Wawancara Ekslusif Rakyat BengkuluR


BURU INFORMASI: Di tengah kesibukannya Bupati Lebong, H. Rosjonsyah, S.IP, M.Si selalu menyempatkan diri membaca Koran RB. Inzet: Imbauan bupati untuk masyarakat Lebong.

Bangun Lebong melalui 16 Program Unggulan

Sejak berdiri 7 Januari 2004, Kabupaten Lebong terus mengalami perubahan. Mulai dari peningkatan fasilitas gedung perkantoran yang tadinya sangat terbatas karena sebelumnya berstatus kecamatan hingga ke akses jalan. Bagaimana sepak terjang Bupati Lebong, H. Rosjonsyah, S.IP, M.Si dalam membangun Kabupaten Lebong? Berikut laporan dan hasil wawancara ekslusif wartawan Rakyat Bengkulu (RB)

MUHARISTA DELDA, Lebong

TERHITUNG tahun 2018, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong akan mengarahkan peta pembangunan di 3 sektor. Ketiga sektor unggulan itu, bidang pariwisata, bidang pertanian dan bidang pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan. Program itu termaktub dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Lebong  yang dikukuhkan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang).

Namun bukan berarti Pemkab Lebong tidak menemui kendala dalam pencanangan program pembangunan di 3 sektor itu. Guna menunjang pembangunan ketiga sektor itu, Pemkab Lebong harus mendahuluinya dengan berbagai sarana penunjang. Antara lain akses jalan yang baik, sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing serta ketersediaan sumber daya alam (SDA).

RB: Pembangunan apa yang telah anda lakukan di periode pertama memimpin Kabupaten Lebong 2010-2015?

Bupati:  Saya rasa bisa dilihat dan rasakan sendiri oleh masyarakat. Pastinya sudah cukup banyak. Mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, bangunan perkantoran, rumah ibadah hingga ke pembangunan non fisik. Seperti peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM).

RB: Apa saja pembangunan fisik dan non fisik yang paling menonjol?

Rosjonsyah: Kalau dibilang mana yang menonjol, tentunya bangunan jalan dan perkantoran mengingat Lebong ini merupakan Kabupaten yang baru saja mekar 13 tahun silam. Pada saat pemekaran, Lebong hanya sebuah kecamatan yang tentunya masih sangat minim fasilitasnya. Baik gedung perkantoran maupun akses jalan. Kalau pembangunan non fisik, Alhamdulillah Pemkab Lebong saat ini telah memiliki 2.800an PNS dari sebelumnya hanya ratusan orang.

RB: Berapa banyak jalan yang telah Anda bangun?

Bupati: Sesuai data pembangunan di Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPRP) Kabupaten Lebong, jalan kabupaten yang telah kami hotmix mencapai 477 kilometer. Itu sudah 87,4 persen dari total 546 kilometer jalan kabupaten di Kabupaten Lebong. Sisanya 69 kilometer lagi akan kami bangun bertahap mulai 2018 hingga 2021. Kalau memungkinkan, tetap akan kami upayakan pembukaan akses jalan baru.

RB: Bangunan apa saja yang menurut anda paling berkesan bagi masyarakat?

Bupati: Selain pembangun gedung perkantoran, tentunya bangunan Masjid Agung Sulthan Abdullah. Termasuk pembangunan tugu batas termegah se Provinsi Bengkulu, yakni tugu batas Lebong-Rejang Lebong yang saat ini masih dalam pengerjaan. Juga bangunan Tugu Presidium Pemekaran Kabupaten Lebong di Kecamatan Pelabai.

RB: Di periode kedua kepempimpinan 2016-2021, apa saja pembangunan fisik yang akan anda kejar ke depan?

Bupati: Masih sangat banyak. Seperti tugu bundaran di Kelurahan Pasar Muara Aman, Kecamatan Lebong Utara. Juga jalan dua jalur di tugu batas Lebong-Rejang Lebong. Pembangunan Pasar Tradisional Masyarakat (PTM) yang saat ini sedang berjalan. Intinya saya ingin Kabupaten Lebong benar-benar terbebas dari ketertinggalan.

RB: Apa langkah yang dilakukan untuk membebaskan Lebong dari keterisoliran?

Bupati: Tentu saja dengan membuat jalan tembus. Salah satunya pembangunan jalan tembus Muara Aman-Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis yang nantinya diharap bisa dilanjutkan ke pembangunan jalan tembus Pinang Belapis-Merangin, Jambi. Termasuk pembangunan jalan tembus Topos-Muara Lakitan, Musirawas, Sumsel.

RB: Apa yang menjadi kendala bagi Pemkab Lebong dalam pembangunan?

Bupati: Saya rasa hal yang pertama tentunya soal anggaran. Kalau hanya mengandalkan APBD Kabupaten Lebong yang hanya sekitar Rp 800 miliar, tentu pembangunan yang dicanangkan tidak bisa terlaksana secepat ini. Makanya kami selalu proaktif menjemput dana-dana dari pusat untuk pembangunan di Kabupaten Lebong.

RB: Selain anggaran, apakah ada kendala lain?

Bupati: Letak geografis Kabupaten Lebong. Dimana Lebong dikelilingi kawasan hutan, baik Hutan Lindung, Taman Nasional Kerinci Sebelat, Taman Wisata Alam hingga Cagar Alam. Dengan kondisi itu, tidak mudah bagi Pemkab Lebong menentukan kebijakan pembangunan. Terutama yang berkaitan dengan pengelolaan aset yang muaranya dapat memberikan sumbangsih bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Contohnya pengelolaan aset wisata. Hampir rata-rata lokasi wisata yang kami miliki masuk kawasan hutan. Jadi belum bisa dikelola maksimal karena tidak didukung fasilitas memadai.

RB: Untuk status Lebong yang rawan bencana, apakah itu menggangu proses pembangunan?

Bupati: Perlu diketahui dari 93 desa yang menyebar di 12 kecamatan se Kabupaten Lebong, hampir 70 persen diantaranya masuk garis rawan bencana. Khususnya bencana banjir dan longsor. Setidaknya ada 60 titik rawan longsor yang tersebar di sepanjang jalan lintas Tes-Curup dan Lebong Atas-Padang Bano, Bengkulu Utara. Itu sesuai data yang saya peroleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebong. Kalau dibilang menggangu proses pembangunan, secara langsung tidak. Toh sejumlah pembangunan tetap berjalan. Namun bencana itu perlu kita waspadai dan harus menjadi perhatian serius semua pihak. Bukan hanya kami kabupaten, namun harus diperhatikan juga oleh pemerintah pusat dan provinsi.

RB: Solusi apa yang bisa ditawarkan untuk mengatasi soal bencana itu?

Bupati: Pertama dengan mengantisipasi terjadinya bencana. Salah satunya dengan tidak merusak hutan dan ekosistem alam. Kedua tidak membangun rumah atau tempat hunian di titik rawan bencana. Ketiga, petugas BPBD dan pihak desa/kelurahan serta kecamatan harus tanggap darurat. Salah satu terobosan yang akan saya lakukan, mewajibkan penggunaan alat komunikasi Handy Talky (HT) bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dengan memakai gelombang radio, komunikasi antara pemdes dan Pemkab tidak terputus sekalipun dalam kondisi darurat bencana.

RB: Apa strategi pembangunan yang paling berpotensi dikembangkan di Lebong?

Bupati: Dalam RPJMD 2016-2021 Pemkab Lebong telah mengarahkan prioritas pembangunan melalui 3 sektor. Yakni bidang pariwisata, bidang pertanian dan bidang pelayanan dasar. Khusus pelayanan dasar meliputi pendidikan dan kesehatan.

RB: Apa anda harapkan dari sejumlah pembangunan itu?

Bupati: Tentunya saya ingin pembangunan yang kami canangkan berpengaruh positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lebong. Artinya pembangunan yang dijalankan harus benar-benar pro rakyat. Selain itu saya minta kepada seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Lebong agar mendukung penuh pembangunan yang dicanangkan Pemkab Lebong.(**)





Komentar Pengunjung